Pertengkaran kecil terjadi. Sang suami berangkat kerja ke kota Padang tanpa sempat diantar istri ke depan pagar.
Si istripun menyesal dengan sikapnya yang tidak wajar, lalu ia
kirimkanlah puisi ini kepada sang suami yang telah berada jauh dari
dirinya. Puisi ini datang tatkala suami juga termenung memikirkan sikap
istri yang sangat ia sayang.
Untuk Suamiku.
====JANGAN TUTUP SURGAKU====
oleh: Meili Damiati,S.S
Duniaku kini tak lagi nyata, Tuan
tertutup kabut pekat yang melanda
Hatiku kini tak dapat lagi kau raba, Tuan
terhalang tingginya tembok baja
Mengapa kau tega, Tuan
menggoreskan luka dalam jiwa
membuat aku tenggelam dalam alpa
dan tak lagi peduli dengan dosa
Maafkan aku belum dapat berkata
hanya raut muka yang bisa bercerita
bukan karena aku tak suka
Tapi luka ini, belum juga ada penawarnya
Lupakah engkau Tuan
hatiku tak ubahnya ibarat kaca
mudah retak dan ternoda
maka sentuhlah ia dengan cinta
Kini aku menangis, Tuan
tertatih mendaki tembok baja yang menyiksa
merobohkan benteng dosa yang meninggalkan lara
masih adakah kesempatanku mendapatkan surga?
Dan akupun terpekur, Tuan
pintunya tak dapat lagi kubuka tanpa ridha
Maafkan aku karena alpa
Semua itu hanya tuk penawar luka
---------------
Bkt, 150114
Jumat, 24 Januari 2014
PARENTING ALA ALI BIN ABI THALIB
Alhamdulillah saya dapat artikel hebat ini. Maaf, bagi yang tau
siapa penulis sesungguhnya, mohon info agar bisa dicantumkan. Sengaja
saya copas dengan sedikit editing lay out agar nyaman dibaca, untuk saya
sebar kepada Ibu-ibu hebat yang ingin mendidik-permata hatinya dengan
didikan yang sudah dicontohkan para sahabat.(Meili Damiati)
Untuk para calon pencetak generasi penerus Rabbani..
Parenting Ala Ali Bin Abi Thalib
"Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu"
itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaikbaiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita -maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi disaat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab.
Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban.
Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat.
Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur'an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari
Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati kehati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih Setelah measuki usia akil Baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang,namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo'a untuk kebaikan dan keselamatannya.
Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup. Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah" (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara).
Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat.
Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live , mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah. > Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya
COPAS dari beberapa sumber
Moga bermanfaat
-Bayti Jannati-
Untuk para calon pencetak generasi penerus Rabbani..
Parenting Ala Ali Bin Abi Thalib
"Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu"
itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaikbaiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita -maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi disaat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab.
Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban.
Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat.
Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur'an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak seusianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari
Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati kehati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih Setelah measuki usia akil Baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang,namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo'a untuk kebaikan dan keselamatannya.
Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup. Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah" (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara).
Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat.
Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live , mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah. > Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya
COPAS dari beberapa sumber
Moga bermanfaat
-Bayti Jannati-
Kamis, 12 Desember 2013
TERIMAKASIH CINTA
Terimakasih cinta...
Dari dulu...
Kau sosok yang ku kagumi
Bukan karena engkau dari keluarga berpunya
Bukan pula karena kegagahan postur tubuhmu
Ku mengagumimu semata-mata
Karena keindahan pribadimu
Sadarkah engkau cinta,
Kita dari keluarga tak sama
dari kebiasaan berbeda pula
dengan didikan orang tua
yang tidak serupa
Wajar jika kita berbeda
Kadang,
Menurutku engkau aneh
dan kadang menurutmu aku aneh
Tapi itulah harmoni..
Ketika kau tutupi kelamahanku
Ketika ku tutupi kelemahanmu
Cinta,
Mari melangkah
Saling berpegang erat
karena ku yakin kau lemah tanpaku
dan aku lemah tanpamu
Dukaku ketika kau marah padaku
Legaku ketika kau hapus air mataku
Terimakasih cinta..
Untuk kesetiaan yang telah kau jaga
ORIGINAL WRITTEN,
Dari dulu...
Kau sosok yang ku kagumi
Bukan karena engkau dari keluarga berpunya
Bukan pula karena kegagahan postur tubuhmu
Ku mengagumimu semata-mata
Karena keindahan pribadimu
Sadarkah engkau cinta,
Kita dari keluarga tak sama
dari kebiasaan berbeda pula
dengan didikan orang tua
yang tidak serupa
Wajar jika kita berbeda
Kadang,
Menurutku engkau aneh
dan kadang menurutmu aku aneh
Tapi itulah harmoni..
Ketika kau tutupi kelamahanku
Ketika ku tutupi kelemahanmu
Cinta,
Mari melangkah
Saling berpegang erat
karena ku yakin kau lemah tanpaku
dan aku lemah tanpamu
Dukaku ketika kau marah padaku
Legaku ketika kau hapus air mataku
Terimakasih cinta..
Untuk kesetiaan yang telah kau jaga
ORIGINAL WRITTEN,
by: MeiLi Ummu Shabira,
Bukittinggi,13-12-13
Bukittinggi,13-12-13
KETIKA SEMANGATKU MULAI MEMUDAR
Tuhan..
inikah jalan hidupku
yang telah tersurat di lauhul mahfuz Mu?
Tunjuki aku..
Apakah aku akan terus tempuh jalan ini
dengan segala kelemahan dan keterbatasanku?
Tuhan..
ingin ku raih surga-Mu
tapi terasa begitu berat
Dekap diriku, Tuhan..
Berikan kekuatan Mu
Biarkan tangisan ini hanya untuk-Mu
biarkan luka hatiku, terobati hanya dengan Mu
Aku begitu lemah...
Selalu berusaha untuk tegar
namun kerap kali ku terjatuh!
Sungguh indah ujian-Mu
ujian berat mem
Kini ku butuh Engkau, Tuhan
Kekuatanku mulai memudar
Sementara dia jauh dariku..
Hanya Kau sandaranku..
Jangan lepaskan aku...
BY:MEILI UMMU SHABIRA
(12-12-13)
Kamis, 05 Desember 2013
MUNAJAT ISTRI
Suamiku...
Syukurku ketika kau ditakdirkan untukku
Bahagiaku ketika kau tutupi kelemahanku
Banggaku ketika anak-anak bersorak menyambut kedatanganmu
Syukurku,bahagiaku dan banggaku
ketika kau taat menjalankan perintah-Nya
Suamiku...
Ku rela ada untuk mendidik anak-anak kita
Ku rela kau mengembara untuk menambah ilmu tentang hidup
dan mencari penghidupan...
untuk kita,anak-anak kita dan orang tua kita
Suamiku...
Ketika kau hadir bersama permata hatimu
hanya beberapa saat saja..
yaach..hanya beberapa saat saja
Ku berharap,
jangan sampai anak-anak tersakiti
karena ketidakmampuanmu mengelola amarah
hanya karena 'kenakalan' yang tidak mereka sengaja
Jangan 'Ayah'....
Jangan rusak perasaan mereka
hanya karena sifat kanak-kanak mereka
Engkau datang sesekali,
mereka hanya ingin bermanja denganmu
Suamiku..
anak-anak bisa mengerti ketika ku marahi mereka
tapi mereka akan sangat susah mengerti
ketika harus menerima amarahmu
Ada kekecewaan mendalam...
ketika itu harus mereka terima
Suamiku..
Aku dan anak-anak adalah tanggung jawabmu
Kesolehan kami bisa ditentukan oleh kesolehanmu
Tapi ingat,
Keburukanmu bukanlah tanggungjawabku
dan bukan pula tanggung jawab anak kita
Amanahmu berat 'Ayah'
Jadikan Allah satu-satu penolongmu
Berjalanlah..
tapi jangan lampaui garis batasNya
Suamiku...
Ku lepas engkau mengarungi pahitnya dunia
dengan sebuah kepercayaan
bahwa kau mampu tetap berada dalam rambu-rambu Nya
Doa kami menyertai smua perjalanmu 'Ayah'
Lindungi suami hamba Ya Rabb
dimanapun ia berada
aamiiin..
(Original written by : MeiLi Ummu Shabira)
Syukurku ketika kau ditakdirkan untukku
Bahagiaku ketika kau tutupi kelemahanku
Banggaku ketika anak-anak bersorak menyambut kedatanganmu
Syukurku,bahagiaku dan banggaku
ketika kau taat menjalankan perintah-Nya
Suamiku...
Ku rela ada untuk mendidik anak-anak kita
Ku rela kau mengembara untuk menambah ilmu tentang hidup
dan mencari penghidupan...
untuk kita,anak-anak kita dan orang tua kita
Suamiku...
Ketika kau hadir bersama permata hatimu
hanya beberapa saat saja..
yaach..hanya beberapa saat saja
Ku berharap,
jangan sampai anak-anak tersakiti
karena ketidakmampuanmu mengelola amarah
hanya karena 'kenakalan' yang tidak mereka sengaja
Jangan 'Ayah'....
Jangan rusak perasaan mereka
hanya karena sifat kanak-kanak mereka
Engkau datang sesekali,
mereka hanya ingin bermanja denganmu
Suamiku..
anak-anak bisa mengerti ketika ku marahi mereka
tapi mereka akan sangat susah mengerti
ketika harus menerima amarahmu
Ada kekecewaan mendalam...
ketika itu harus mereka terima
Suamiku..
Aku dan anak-anak adalah tanggung jawabmu
Kesolehan kami bisa ditentukan oleh kesolehanmu
Tapi ingat,
Keburukanmu bukanlah tanggungjawabku
dan bukan pula tanggung jawab anak kita
Amanahmu berat 'Ayah'
Jadikan Allah satu-satu penolongmu
Berjalanlah..
tapi jangan lampaui garis batasNya
Suamiku...
Ku lepas engkau mengarungi pahitnya dunia
dengan sebuah kepercayaan
bahwa kau mampu tetap berada dalam rambu-rambu Nya
Doa kami menyertai smua perjalanmu 'Ayah'
Lindungi suami hamba Ya Rabb
dimanapun ia berada
aamiiin..
(Original written by : MeiLi Ummu Shabira)
Senin, 25 November 2013
KETRAMPILAN DASAR PEREMPUAN
CATBUNG
BAGIAN II
(Original written by :MeiLi Damiati,S.S)
(bagi yang belum membaca bagian I, mundur dulu selangkah ya.. ^_^)
Saya yakin, banyak para perempuan yang memiliki pengalaman serupa dengan saya. Memiliki segudang prestasi, merasa bahwa ia sudah sempurna. tapi ternyata sangat lemah dalam hal mengurus rumah tangga. Sebagai seorang muslimah, catatan ini juga saya hadiahkan buat teman-teman muslimah lainnya khususnya yang akan melangkahkan hidup ke jenjang pernikahan.
Ketrampilan rumah tangga seperti mencuci, memasak, menyetrika,mencuci piring dan pekerjaan rumah lainnya sering dianggap sepele oleh kebanyakan orang. "Toh sekarang kalau ga bisa ya tinggal bayar pembantu" pikir mereka. Tapi ternyata dengan menguasai ketrampilan dasar rumah tangga, seseorang pasti akan tambah disayang. Baik itu oleh suaminya,anak-anaknya bahkan mertua sekalipun atau meskipun punya pembantu, pasti akan ada suatu waktu dimana pembantu pulang kampung dan pekerjaan rumah harus kita handle sendiri.
Disini saya akan coba berbagi seni ketrampilan rumah tangga yang banyak saya pelajari dari Ibu Mertua
."Seni bekerja itu perlu karena dalam seni ada keindahan, dalam keindahan ada kenyamanan"
1. MENCUCI PIRING
Sebelum mencuci piring, sebaiknya piring kotor disusun rapi di sekitar westafel untuk memudahkan proses pencucian. sesama piring disatukan,gelas dikelompokkan, dan lainnya pun dimasukan grup masing-masing (he..he..) sebaiknya dahulukan mencuci gelas. alasannya karena gelas digunakan untuk minum.Ketika kita mengawali 'mencuci piring ' dengan gelas, otomatis spoon pencuci piring itu belum terkontaminasi dgn yang lain. apakah itu bekas minyak, cabe dan lain-lain. hasilnya aroma gelas pun fresh, tanpa harus ada bekas minyak, aroma cabe dan apapun itu. Kemudian kita lanjutkan dengan piring/ sendok dan lain sebagainya. periuk dan kawan-kawan kita masukkan antrian terakhir. Agar tempat sekitar westafel tidak terlalu padat, sebaiknya setiap grup yang sudah disabuni, langsung kita bilas dan kita tempatkan di tempatnya/ rak piring yang telah tersedia.Pasti akan terasa bedanya daripada semua grup kita cuci dahulu dan terakhir pembilasan (kerja borongan terkesan kurang elegan lho..ha..ha).Tapi memang ternyata teknik ini membuat kerja lebih lega.
2. MEMASAK
mungkin ketrampilan yang 1 ini banyak yang mengaku tidak mahir,karena merasa tingkat kesulitannya lebih tinggi diantara pekerjaan lain. Dulu saya berfikir juga seperti itu.
Ingat sobat,memasak lauk pauk tidak terlepas dari yang namanya bumbu. kenalilah dulu perbedaan kunyit, laos dan jahe. Untuk pemula mungkin akan susah membedakannya karena sekilas bentuknya hampir sama. begitu juga pastikan bahwa kita juga bisa membedakan mana daun kunyit, daun salam, daun jeruk dan serei.
Untuk bawang merah dan bawang putih saya yakin, pasti sudah tau ya ^_^. Selanjutnya bedakan mana seledri, mana bawang prei (daun bawang) kemudian antara merica dan ketumbar. Menurut saya ini beberapa seputar bumbu masak yang harus dikenali dahulu karena dengan mengenal ini, banyak masakan yang bisa kita olah sendiri. Insya Allah nanti saya akan berbagi beberapa resep masakan yang mudah diolah dan sangat enak di lidah
Selanjutnya kita lanjut kepada seni memasak. Ketika seorang ibu rumahtangga yang notabene tanpa pembantu, ternyata kita sangat bisa mengoptimalkan waktu ketika memasak.Misal, ketika ingin membuat hidangan berupa 'sambal lado tomat" khas Minang, ketika cabe, tomat dan bawang di steamer (diuap), kita bisa melakukan hal lain, misal menggoreng ikan atau mengupas kentang. optimalkan waktu agar masakan kita selesai dalam waktu singkat. ketika ada proses memasak yang bisa ditinggal, kita bisa melakukan hal lain yang berkenaan dgn hidangan yang kita tuju.intinya " kreatifitas harus tetap berjalan" otak harus tetap aktif dan selalu hiasi wajah dengan senyuman agar masakanpun semakin nikmat karena ditambah bumbu cinta ^_^
Eksplor potensi yang ada karena kita perempuan.Perempuan itu indah dan pastinya mencintai keindahan bukan? Setelah proses memasak selesai, jangan tinggalkan dapur dalam keadaan berantakan ya Moms ^_^. meskipun hasil masakan enak tapi jika proses kerja kita tidak sampai tuntas,pastinya akan mengurangi nilai kita lho Moms.. rapikan dapur dgn sesegera mungkin dengan mencuci perlengkapan yang kotor dan jangan lupa si KOMPOR jangan luput dari belaian. lap bekas noda yang menempel dengan kain basah agar awet dan selalu kinclong.
3. MENCUCI KAIN
Aktivitas ini terlihat sepele, tapi ternyata masih ada saja yang tidak mengerti teknik yang tepat untuk mencuci. Saya melihat sendiri, ketika seseorang mencuci baju putih dan hitam digabungkan, ketika kain lap dan baju harian digabungkan. ketika sajadah dan mukena dicuci bersamaan?Oww!!! tidak perlu teknik yang aneh-aneh deh. Mari kita pakai logika saja! baju putih dan baju berwarna memang harus dipisahkan.Kita bisa lihat di kemasan2 deterjen, rata-rata tertulis "pisahkan pakaian putih dan pakaian berwarna".Pasti ada maksudnya. Agar pakaian putih kita tidak menjadi pudar karena kontaminasi pakaian berwarna yang kadang mengeluarkan 'residu'. Begitu juga pakaian harian dan kain lap jangan digabung ya.. Kain lap kadang mengandung minyak dan kotoran lain, jangan sampai niat mencuci malah menyengsarakan pakaian-pakaian lain karena salah teknik. Yang parahnya lagi, mukena putih dicuci dengan sajadah (OMG!!). Membedakan pakaian, selain dalam kelompok PUTIH dan BERWARNA juga bedakan dengan TINGKAT KOTOR nya.Selanjutnya proses cucian sesuai kreatifitas anda ^_^.
4. MENJEMUR PAKAIAN
Ketika kita menjemur menggunakan penjemur kain yang biasanya terbuat dari aluminium atau semisalnya, apakah terpikir untuk mengklasifikasikan tempat sesuai jenis pakaian?? Sepertinya terlalu ribet ya tapi ternyata tidak juga, karena kita bisa langsung menjemur pakaian tersebut dengan menempatkan pakaian sesuai tempat yang cocok. Celana sesama celana, pakaian dalam di tempatkan di bagian dalam agar tidak 'merusak pemandangan' pakaian dengan ketebalan lebih di tempat yang bisa langsung kena sinar matahari. Memang sebenarnya tujuan kita hanya agar pakaian itu kering tapi ketika kita bisa menjemur dengan tertata, pasti ada kepuasan sendiri yang muncul.Coba bandingkan dengan jemuran lain yang dalam 1 deretan terkumpul celana tebal, singlet, pakaian dalam, handuk.Pasti kita lebih puas dengan kerja kita yang timbul dari proses berfikir. ketika pakaian itu tipis, kita tempatkan di tempat yang lebih tersembunyi pun tidak masalah, karena kebutuhannya terhadap sinar matahari tidak begitu kuat. Simpel kan? Oh ya, 1 lagi jangan lupa memastikan pakaian yang kita jemur sudah dalam kondisi terbalik agar pakaian tidak pudar disebabkan sinar matahari.
5. MENYETRIKA
Bagi kebanyakan ibu rumah tangga, aktivitas menyetrika adalah aktivitas yang paling menjenuhkan. karena pekerjaan yang 1 ini tidak bisa disambi dengan kerjaan lainnya. (bisa gosong tuh baju, he..he..). untuk mempercepat proses menyetrika pakaian, saya sarankan sebelum kabel setrikaan dicolokkan, seperti aktifitas lainnya, mari kita klasifikasikan dulu pakaian tersebut. misal baju Umi-baju Ayah-baju dedek-baju kakak-pakaian dalam dsb. Setelah pakaian itu terkelompokkan dan sudah kita pastikan posisi bagian luar sudah berada di arah luar (tidak terbalik), baru proses menyetrika kita mulai. lipat serapi mungkin dan langsung letakkan sesuai kalsifikasi pakaian tersebut.
Beberapa ketrampilan dasar diatas bagi sebagian perempuan sudah merupakan hal biasa. Bersyukurlah,karena Moms sudah menguasai ketrampilan dasar. Tapi jika merasa memang belum terbiasa,yuuks biasakan agar bs menjadi Moms yang trampil ^_^
Bersambung
BAGIAN II
(Original written by :MeiLi Damiati,S.S)
(bagi yang belum membaca bagian I, mundur dulu selangkah ya.. ^_^)
Saya yakin, banyak para perempuan yang memiliki pengalaman serupa dengan saya. Memiliki segudang prestasi, merasa bahwa ia sudah sempurna. tapi ternyata sangat lemah dalam hal mengurus rumah tangga. Sebagai seorang muslimah, catatan ini juga saya hadiahkan buat teman-teman muslimah lainnya khususnya yang akan melangkahkan hidup ke jenjang pernikahan.
Ketrampilan rumah tangga seperti mencuci, memasak, menyetrika,mencuci piring dan pekerjaan rumah lainnya sering dianggap sepele oleh kebanyakan orang. "Toh sekarang kalau ga bisa ya tinggal bayar pembantu" pikir mereka. Tapi ternyata dengan menguasai ketrampilan dasar rumah tangga, seseorang pasti akan tambah disayang. Baik itu oleh suaminya,anak-anaknya bahkan mertua sekalipun atau meskipun punya pembantu, pasti akan ada suatu waktu dimana pembantu pulang kampung dan pekerjaan rumah harus kita handle sendiri.
Disini saya akan coba berbagi seni ketrampilan rumah tangga yang banyak saya pelajari dari Ibu Mertua
."Seni bekerja itu perlu karena dalam seni ada keindahan, dalam keindahan ada kenyamanan"
1. MENCUCI PIRING
Sebelum mencuci piring, sebaiknya piring kotor disusun rapi di sekitar westafel untuk memudahkan proses pencucian. sesama piring disatukan,gelas dikelompokkan, dan lainnya pun dimasukan grup masing-masing (he..he..) sebaiknya dahulukan mencuci gelas. alasannya karena gelas digunakan untuk minum.Ketika kita mengawali 'mencuci piring ' dengan gelas, otomatis spoon pencuci piring itu belum terkontaminasi dgn yang lain. apakah itu bekas minyak, cabe dan lain-lain. hasilnya aroma gelas pun fresh, tanpa harus ada bekas minyak, aroma cabe dan apapun itu. Kemudian kita lanjutkan dengan piring/ sendok dan lain sebagainya. periuk dan kawan-kawan kita masukkan antrian terakhir. Agar tempat sekitar westafel tidak terlalu padat, sebaiknya setiap grup yang sudah disabuni, langsung kita bilas dan kita tempatkan di tempatnya/ rak piring yang telah tersedia.Pasti akan terasa bedanya daripada semua grup kita cuci dahulu dan terakhir pembilasan (kerja borongan terkesan kurang elegan lho..ha..ha).Tapi memang ternyata teknik ini membuat kerja lebih lega.
2. MEMASAK
mungkin ketrampilan yang 1 ini banyak yang mengaku tidak mahir,karena merasa tingkat kesulitannya lebih tinggi diantara pekerjaan lain. Dulu saya berfikir juga seperti itu.
Ingat sobat,memasak lauk pauk tidak terlepas dari yang namanya bumbu. kenalilah dulu perbedaan kunyit, laos dan jahe. Untuk pemula mungkin akan susah membedakannya karena sekilas bentuknya hampir sama. begitu juga pastikan bahwa kita juga bisa membedakan mana daun kunyit, daun salam, daun jeruk dan serei.
Untuk bawang merah dan bawang putih saya yakin, pasti sudah tau ya ^_^. Selanjutnya bedakan mana seledri, mana bawang prei (daun bawang) kemudian antara merica dan ketumbar. Menurut saya ini beberapa seputar bumbu masak yang harus dikenali dahulu karena dengan mengenal ini, banyak masakan yang bisa kita olah sendiri. Insya Allah nanti saya akan berbagi beberapa resep masakan yang mudah diolah dan sangat enak di lidah
Selanjutnya kita lanjut kepada seni memasak. Ketika seorang ibu rumahtangga yang notabene tanpa pembantu, ternyata kita sangat bisa mengoptimalkan waktu ketika memasak.Misal, ketika ingin membuat hidangan berupa 'sambal lado tomat" khas Minang, ketika cabe, tomat dan bawang di steamer (diuap), kita bisa melakukan hal lain, misal menggoreng ikan atau mengupas kentang. optimalkan waktu agar masakan kita selesai dalam waktu singkat. ketika ada proses memasak yang bisa ditinggal, kita bisa melakukan hal lain yang berkenaan dgn hidangan yang kita tuju.intinya " kreatifitas harus tetap berjalan" otak harus tetap aktif dan selalu hiasi wajah dengan senyuman agar masakanpun semakin nikmat karena ditambah bumbu cinta ^_^
Eksplor potensi yang ada karena kita perempuan.Perempuan itu indah dan pastinya mencintai keindahan bukan? Setelah proses memasak selesai, jangan tinggalkan dapur dalam keadaan berantakan ya Moms ^_^. meskipun hasil masakan enak tapi jika proses kerja kita tidak sampai tuntas,pastinya akan mengurangi nilai kita lho Moms.. rapikan dapur dgn sesegera mungkin dengan mencuci perlengkapan yang kotor dan jangan lupa si KOMPOR jangan luput dari belaian. lap bekas noda yang menempel dengan kain basah agar awet dan selalu kinclong.
3. MENCUCI KAIN
Aktivitas ini terlihat sepele, tapi ternyata masih ada saja yang tidak mengerti teknik yang tepat untuk mencuci. Saya melihat sendiri, ketika seseorang mencuci baju putih dan hitam digabungkan, ketika kain lap dan baju harian digabungkan. ketika sajadah dan mukena dicuci bersamaan?Oww!!! tidak perlu teknik yang aneh-aneh deh. Mari kita pakai logika saja! baju putih dan baju berwarna memang harus dipisahkan.Kita bisa lihat di kemasan2 deterjen, rata-rata tertulis "pisahkan pakaian putih dan pakaian berwarna".Pasti ada maksudnya. Agar pakaian putih kita tidak menjadi pudar karena kontaminasi pakaian berwarna yang kadang mengeluarkan 'residu'. Begitu juga pakaian harian dan kain lap jangan digabung ya.. Kain lap kadang mengandung minyak dan kotoran lain, jangan sampai niat mencuci malah menyengsarakan pakaian-pakaian lain karena salah teknik. Yang parahnya lagi, mukena putih dicuci dengan sajadah (OMG!!). Membedakan pakaian, selain dalam kelompok PUTIH dan BERWARNA juga bedakan dengan TINGKAT KOTOR nya.Selanjutnya proses cucian sesuai kreatifitas anda ^_^.
4. MENJEMUR PAKAIAN
Ketika kita menjemur menggunakan penjemur kain yang biasanya terbuat dari aluminium atau semisalnya, apakah terpikir untuk mengklasifikasikan tempat sesuai jenis pakaian?? Sepertinya terlalu ribet ya tapi ternyata tidak juga, karena kita bisa langsung menjemur pakaian tersebut dengan menempatkan pakaian sesuai tempat yang cocok. Celana sesama celana, pakaian dalam di tempatkan di bagian dalam agar tidak 'merusak pemandangan' pakaian dengan ketebalan lebih di tempat yang bisa langsung kena sinar matahari. Memang sebenarnya tujuan kita hanya agar pakaian itu kering tapi ketika kita bisa menjemur dengan tertata, pasti ada kepuasan sendiri yang muncul.Coba bandingkan dengan jemuran lain yang dalam 1 deretan terkumpul celana tebal, singlet, pakaian dalam, handuk.Pasti kita lebih puas dengan kerja kita yang timbul dari proses berfikir. ketika pakaian itu tipis, kita tempatkan di tempat yang lebih tersembunyi pun tidak masalah, karena kebutuhannya terhadap sinar matahari tidak begitu kuat. Simpel kan? Oh ya, 1 lagi jangan lupa memastikan pakaian yang kita jemur sudah dalam kondisi terbalik agar pakaian tidak pudar disebabkan sinar matahari.
5. MENYETRIKA
Bagi kebanyakan ibu rumah tangga, aktivitas menyetrika adalah aktivitas yang paling menjenuhkan. karena pekerjaan yang 1 ini tidak bisa disambi dengan kerjaan lainnya. (bisa gosong tuh baju, he..he..). untuk mempercepat proses menyetrika pakaian, saya sarankan sebelum kabel setrikaan dicolokkan, seperti aktifitas lainnya, mari kita klasifikasikan dulu pakaian tersebut. misal baju Umi-baju Ayah-baju dedek-baju kakak-pakaian dalam dsb. Setelah pakaian itu terkelompokkan dan sudah kita pastikan posisi bagian luar sudah berada di arah luar (tidak terbalik), baru proses menyetrika kita mulai. lipat serapi mungkin dan langsung letakkan sesuai kalsifikasi pakaian tersebut.
Beberapa ketrampilan dasar diatas bagi sebagian perempuan sudah merupakan hal biasa. Bersyukurlah,karena Moms sudah menguasai ketrampilan dasar. Tapi jika merasa memang belum terbiasa,yuuks biasakan agar bs menjadi Moms yang trampil ^_^
Bersambung
Minggu, 24 November 2013
KETRAMPILAN DASAR PEREMPUAN
CATBUNG
BAGIAN I
Memang tidak salah ungkapan yang mengatakan "inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja".Tadi pagi ketika menjemur kain, tiba-tiba muncul pikiran tuk corat coret seputar ketrampilan dasar perempuan. Tak bisa kita pungkiri, bagaimanapun prestasi seorang perempuan,secantik apapun dia, sekaya apapun dia tetap saja suatu saat nanti perempuan itu akan menjadi istri dan ibu.
Hmmm... saya akan mencoba menulis seputar pengalaman saya :
Sebelum menikah, saya termasuk tipe perempuan yang minim ketrampilan karena orangtua lebih memprioritaskan tuk mengasah otak kiri saya daripada otak kanan.Mama seorang wanita karir di sebuah kelurahan dengan kesibukan yang sama-sama bisa kita maklumi Alhamdulillah Papa memilih bekerja wiraswasta dengan tujuan bisa mendampingi anak-anak tumbuh dan mendidiknya menjadi 'pintar'.Tekad dan kesungguhan Papa mendidik saya berbuah manis.
Dimasa sekolah saya termasuk siswa berprestasi. Prestasi yang saya raih mulai tampak sejak SD hingga saya menamatkan Perguruan Tinggi di Universitas Padjadjaran jurusan Sastra Arab. Pendidikan saya dimulai dari TK Kutilang II Bukittinggi lanjut ke SDN 22 Tarok Dipo Bukittinggi, lanjut ke Pesantren Diniyyah Pasia Bukittinggi selama 6 tahun dan lanjut ke Fakultas Sastra Jurusan Sastra Arab Unpad, Alhamdulillah 3 tahun S1 rampung ^_^ dengan masa efektif belajar 2 tahun 8 bulan. hebat bukan??
Bulan Agustus 2004 tepatnya, saya pun diwisuda sebagai Sarjana Sastra dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,86 dan sebagai Mahasiswa lulus tercepat bersama 2 orang teman saya lainnya.Memang ketika itu saya sudah bertekad untuk cepat menyelesaikan kuliah dan Alhamdulillah terwujud.
September 2004 saya mencoba untuk memasukkan lamaran sebagai Dosen Bahasa Arab. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, lamaran saya diterima dengan baik. Saya pun tercatat sebagai Dosen Bahasa Arab di Akademi PGSD/PGTK Adzkia Bukittinggi tahun 2004/2005. Ada sedikit kenangan yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ketika itu,sebelum memulai mengajar, saya diwanti wanti Ibu Pimpinan untuk tidak memberi tahu umur dan tanggal lahir saya kepada Mahasiswa yang mungkin akan bertanya, alasannya karena ada 1 kelas yang akan saya ajar, semua Mahasiswanya lbh tua dari saya krn sepertinya ada kelas khusus yang rata-rata mereka sudah bekerja dan menjadi guru.Sepertinya mereka kuliah untuk menaikkan 'status' saja. Alhamdulillah.. proses belajar mengajar berjalan lancar.Hingga 2 bulan berjalan, saya dapat panggilan tuk menemui calon belahan jiwa.
Disinilah masalah mulai muncul. tau sendiri kaan. tamat sekolah dasar saya lanjut pendidikan di Pesantren selama 6 tahun. Hufft, bisa dibilang ketika itu saya buta dengan keterampilan rumah tangga. Untung saja dulu ketika kuliah, kadang-kadang saya menyempatkan diri untuk belajar masak otodidaks yang hasilnya ga wah..wah bangett dehh..
Mengapa saya bilang masalah mulai muncul?karena Bumer saya orangnya perfect banget dalam urusan rumah tangga, kapan harus belanja persiapan dapur? bagaimana teknik memasak serta merawat dapur agar tetap rapi? kapan waktu yang tepat untuk memasak?bagaimana cara menjemur kain? bagaimana mengolah sendiri bumbu masakan?bagaimana cara memperhatikan penampilan anak? huwwaaaaaaaaaaaaaaaaa....ampyun deh! ketika itu saya berfikir "ribet banget sih!! masak hal-hal kecil begini aja harus benar-benar diperhatikan juga?" jadilah ketika itu saya merasa menjadi sebagai Perempuan yang paling bodoh sejagad raya. "Oh tidaaak, bukankah semua ini tidak menyebabkan dosa meskipun saya tidak bisa? bukankah tanpa ketrampilan itu pun saya tidak bisa digolongkan wanita durhaka?" itulah yang ada di keyakinan saya ketika itu, asal tidak melanggar peraturan Allah semua akan aman.
Ternyata bagi kehidupan saya tidak! tanpa ketrampilan itu, masalah mungkin akan muncul. Meski tidak dengan suami saya tapi bisa timbul dari keluarga besar suami yang sangat detil memperhatikan hal-hal kecil sekalipun. Siapa yang akan saya salahkan?? Mama saya yang waktu itu menurut saya terlalu sibuk dengan tugas profesinya ataukan bumer saya yang terlalu perfect??? Memang dulu saya sempat kecewa dengan Mama dan sakit hati dengan bumer tapi ternyata saya SALAH BESAR menyikapi. Mengapa?karena hasil dari kerja Mama selama ini sdh saya nikmati dan sejujurnya tidak bisa saya nafikan begitu saja dan dari karakter Bumer yang begitu perfectpun akhirnya saya banyak belajar. Makasih Mama.. Makasih Mami...
Saya yang salah! bukankah ketika memutuskan menikah saya adalah Perempuan Dewasa?! saya yang salah, mengapa sebelumnya saya terlalu cuek untuk mempelajari ketrampilan dasar rumah tangga?! Saya yakin, dengan Allah memberikan Mama yang sabar dan Mami yang perfect saya bisa tumbuh dan hidup lebih baik dari hari kehari.
Bersambung... ^_^
BAGIAN I
KETIKA KU MENGENALI KELEMAHANKU
25/11-13Memang tidak salah ungkapan yang mengatakan "inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja".Tadi pagi ketika menjemur kain, tiba-tiba muncul pikiran tuk corat coret seputar ketrampilan dasar perempuan. Tak bisa kita pungkiri, bagaimanapun prestasi seorang perempuan,secantik apapun dia, sekaya apapun dia tetap saja suatu saat nanti perempuan itu akan menjadi istri dan ibu.
Hmmm... saya akan mencoba menulis seputar pengalaman saya :
Sebelum menikah, saya termasuk tipe perempuan yang minim ketrampilan karena orangtua lebih memprioritaskan tuk mengasah otak kiri saya daripada otak kanan.Mama seorang wanita karir di sebuah kelurahan dengan kesibukan yang sama-sama bisa kita maklumi Alhamdulillah Papa memilih bekerja wiraswasta dengan tujuan bisa mendampingi anak-anak tumbuh dan mendidiknya menjadi 'pintar'.Tekad dan kesungguhan Papa mendidik saya berbuah manis.
Dimasa sekolah saya termasuk siswa berprestasi. Prestasi yang saya raih mulai tampak sejak SD hingga saya menamatkan Perguruan Tinggi di Universitas Padjadjaran jurusan Sastra Arab. Pendidikan saya dimulai dari TK Kutilang II Bukittinggi lanjut ke SDN 22 Tarok Dipo Bukittinggi, lanjut ke Pesantren Diniyyah Pasia Bukittinggi selama 6 tahun dan lanjut ke Fakultas Sastra Jurusan Sastra Arab Unpad, Alhamdulillah 3 tahun S1 rampung ^_^ dengan masa efektif belajar 2 tahun 8 bulan. hebat bukan??
Bulan Agustus 2004 tepatnya, saya pun diwisuda sebagai Sarjana Sastra dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,86 dan sebagai Mahasiswa lulus tercepat bersama 2 orang teman saya lainnya.Memang ketika itu saya sudah bertekad untuk cepat menyelesaikan kuliah dan Alhamdulillah terwujud.
September 2004 saya mencoba untuk memasukkan lamaran sebagai Dosen Bahasa Arab. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, lamaran saya diterima dengan baik. Saya pun tercatat sebagai Dosen Bahasa Arab di Akademi PGSD/PGTK Adzkia Bukittinggi tahun 2004/2005. Ada sedikit kenangan yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ketika itu,sebelum memulai mengajar, saya diwanti wanti Ibu Pimpinan untuk tidak memberi tahu umur dan tanggal lahir saya kepada Mahasiswa yang mungkin akan bertanya, alasannya karena ada 1 kelas yang akan saya ajar, semua Mahasiswanya lbh tua dari saya krn sepertinya ada kelas khusus yang rata-rata mereka sudah bekerja dan menjadi guru.Sepertinya mereka kuliah untuk menaikkan 'status' saja. Alhamdulillah.. proses belajar mengajar berjalan lancar.Hingga 2 bulan berjalan, saya dapat panggilan tuk menemui calon belahan jiwa.
Disinilah masalah mulai muncul. tau sendiri kaan. tamat sekolah dasar saya lanjut pendidikan di Pesantren selama 6 tahun. Hufft, bisa dibilang ketika itu saya buta dengan keterampilan rumah tangga. Untung saja dulu ketika kuliah, kadang-kadang saya menyempatkan diri untuk belajar masak otodidaks yang hasilnya ga wah..wah bangett dehh..
Mengapa saya bilang masalah mulai muncul?karena Bumer saya orangnya perfect banget dalam urusan rumah tangga, kapan harus belanja persiapan dapur? bagaimana teknik memasak serta merawat dapur agar tetap rapi? kapan waktu yang tepat untuk memasak?bagaimana cara menjemur kain? bagaimana mengolah sendiri bumbu masakan?bagaimana cara memperhatikan penampilan anak? huwwaaaaaaaaaaaaaaaaa....ampyun deh! ketika itu saya berfikir "ribet banget sih!! masak hal-hal kecil begini aja harus benar-benar diperhatikan juga?" jadilah ketika itu saya merasa menjadi sebagai Perempuan yang paling bodoh sejagad raya. "Oh tidaaak, bukankah semua ini tidak menyebabkan dosa meskipun saya tidak bisa? bukankah tanpa ketrampilan itu pun saya tidak bisa digolongkan wanita durhaka?" itulah yang ada di keyakinan saya ketika itu, asal tidak melanggar peraturan Allah semua akan aman.
Ternyata bagi kehidupan saya tidak! tanpa ketrampilan itu, masalah mungkin akan muncul. Meski tidak dengan suami saya tapi bisa timbul dari keluarga besar suami yang sangat detil memperhatikan hal-hal kecil sekalipun. Siapa yang akan saya salahkan?? Mama saya yang waktu itu menurut saya terlalu sibuk dengan tugas profesinya ataukan bumer saya yang terlalu perfect??? Memang dulu saya sempat kecewa dengan Mama dan sakit hati dengan bumer tapi ternyata saya SALAH BESAR menyikapi. Mengapa?karena hasil dari kerja Mama selama ini sdh saya nikmati dan sejujurnya tidak bisa saya nafikan begitu saja dan dari karakter Bumer yang begitu perfectpun akhirnya saya banyak belajar. Makasih Mama.. Makasih Mami...
Saya yang salah! bukankah ketika memutuskan menikah saya adalah Perempuan Dewasa?! saya yang salah, mengapa sebelumnya saya terlalu cuek untuk mempelajari ketrampilan dasar rumah tangga?! Saya yakin, dengan Allah memberikan Mama yang sabar dan Mami yang perfect saya bisa tumbuh dan hidup lebih baik dari hari kehari.
Bersambung... ^_^
Tanaman Lidah Mertua yang saya ganti nama dengan 'Petuah Mertua',
ingat tanaman ini,ingat Nasehat Mertua ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)





