===JODOHKU===
Oleh: Meili Damiati
"Alhamdulillah... "
Hanya kalimat itu yang bisa kuucap ketika engkau mengabarkan bahwa pernikahan kita dimajukan seminggu setelah lebaran.
Awalnya
keluarga besar kita sepakat untuk menggelar akad nikah kita setelah
idul adha. Tapi karena beberapa pertimbangan dari keluarga besarmu, aku
dan keluargapun menerima perubahan waktu dengan suka cita.
Aku
sudah kenal baik denganmu. Engkau adalah salah satu ustadz yang dulu
pernah mengajarku di Pondok Pesantren tempatku menimba ilmu.
Di mataku, kau adalah orang baik dan berjiwa sosial tinggi. Aku menyukai kepribadianmu.
Karena
ilmumu dalam pengobatan herbal mencukupi, maka kedekatan kita
terbangun ketika aku dulu sering sakit-sakitan. Mau tidak mau
interaksiku denganmu berjalan, tapi dalam koridor yang aman. Waktu
itupun aku tidak ada 'rasa' kepadamu. Maaf, jika aku terlalu jujur,
memang waktu itu rasanya tidak mungkin jika kita akan berjodoh. Banyak
perbedaan antara kita yang bisa menjadi terpautnya dua hati dalam sebuah
ikatan suci.
Hanya sebuah pengakuan dalam hati bahwa memang engkau adalah orang yang baik dan bertanggungjawab.
Engkau
pasti sudah tau dari ceritaku, bahwa saat kuliah dulu, aku sempat
menjalani ta'arruf beberapa bulan dengan seseorang. Kami tidak pernah
bertemu muka. Hanya melalui sepucuk surat yang kami kirimkan melalui
perantara. Dia seorang aktivis yang loyal dengan Islam. Karena ketika
itu ia benar-benar sudah siap menikah, sementara aku harus
menyelesaikan kuliah. Akhirnya proses ta'arruf kuakhiri. Meski orangnya
yakin siap untuk menungguku, tapi aku tidak mau mempersempit langkahku
ketika itu. Banyak pertimbangan dari orangtua yang menuntutku untuk
segera menyelesaikan kuliah dulu. Apapun alasannya, proses abu-abu ini
harus kuakhiri.
Kekecewaannya disampaikan padaku dalam sepucuk surat. Aku tahu, getir memang tapi bagaimanapun aku tidak boleh memaksakan diri.
Pikiranku
mulai tertuju kepadamu bermula ketika Papa menanyakanmu. Ntahlah,
sepertinya Papa sangat menyukai kepribadianmu. Karena memang menurutku
engkau orang yang baik, akupun mulai menanyakan langsung kepadamu,
apakah perhatianmu kepadaku selama ini adalah bentuk niatmu untuk
menjadikanku belahan jiwamu atau tidak?
Memang waktu itu aku tak tau malu ya....Tapi jawaban pasti akan membuat langkahku tidak ragu.
Tapi ternyata engkau waktu itu sedang menjalani ta'arruf dengan seseorang.
Engkau
kaget, ketika aku mengutarakan maksudku. Karena menurut keteranganmu,
dulu engkau sudah pernah bertanya padaku tentang pernikahan secara
tersirat. Tapi aku menjawab akan melanjutkan S2 dulu baru menikah.
Engkau merasa bahwa niatmu untuk menjadikanku tulang rusukmu yang hilang
tertutup sudah oleh jawabanku. Karena memang cita-citamu ingin menikah
ketika kuliah untuk menjaga dirimu dari pengaruh buruk lingkungan
sekitarmu.
Ta'arrufmu dengan si wanita pun berakhir karena banyaknya ketidaksaamaan visi kalian berdua termasuk keluarga besarmu.
Saat itu aku memposisikan diri sebagai Khadijah yang berani mengungkapkan keinginan pada laki-laki yang disukai orangtuaku.
Gayung
bersambut. Tapi oowwww, berhubung kita berdua dari keluarga Minang.
Banyak persoalan yang kita hadapi untuk bisa menuju jenjang pernikahan.
Kakak tertuamu ketika itu belum menikah. Itu menjadi sebuah hambatan serius bagi kita.
Sebagai
perempuan, memang aku yang paling getol menanyakan keseriusanmu.
Karena aku benar-benar tidak suka jika niat untuk segera menikah ini
digantung, untuk menunggu calon kakak iparku menikah dulu.
Sampai kapan Uda?!
Waktu itu aku hanya butuh jawaban, ya atau tidak?!
Berbagai
cara engkau usahakan untuk memahamkan keluargamu agar bisa meyakini
bahwa jodoh itu rahasia Allah. Aku tau, engkau sangat tidak ingin
proses ini meninggalkan luka pada salah seorang keluargamu. Makanya
engkau memintaku untuk bersabar agar bisa memberi pemahaman bahwa tidak
akan ada aib dalam agama ketika mendahulukan pernikahan anak yang
lebih dahulu menemukan jodohnya. Alhamdulillah, keluargamu menjadi
lunak hatinya.
22 November 2004, pernikahan kitapun berlangsung
khidmat dengan rasa syukur yang amat sangat meskipun dipihakmu hanya
menggelar acara sederhana untuk menjaga perasaan kakak iparku. Ada air
mata isterius yang kulihat mengalir dari mata Ibumu. Mungkin ada rasa
haru disana. Ada rasa bahagia ketika engkau telah menemukan tambatan
hatimu, atau mungkin juga rasa sedih ketika kau harus mendahului
kakakmu.
Suamiku, proses menuju pernikahan kita memang tidak mulus.
Namun
yang pasti, aku bahagia denganmu kini. Kegetolanku untuk segera
menikah waktu itu, kubuktikan dengan kesetiaanku mendampingimu dalam
keadaan manis pahitnya ekonomi keluarga. Meski pertengkaran antara kita
tak jarang terjadi, baik pertengkaran kecil hingga pertengkaran besar.
Mungkin engkau ingat ketika pintu perceraianpun sudah didepan mata. Tapi
kita berdua bersyukur, kita mampu menjauhi segala campur tangan
syaithan waktu itu.
Ternyata semua masalah bisa dihadapi selama masing-masing bisa menyadari bahwa tak seorangpun di dunia ini yang sempurna.
Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Saling memahami adalah kunci.
Kini usia pernikahan kita baru akan memasuki tahun kesepuluh.
Alhamdulillah,3 orang putra-putri yang 'bawel' menambah banyak warna dalam keluarga.
Semoga
sebagai istri dan Ibu, aku mampu membawa bahtera 'Bayti Jannati' ini
berlayar utuh hingga menepi di pelabuhan "Mardhatillah" Insya Allah.
Suamiku, jangan sampai kau tutup pintu surga untukku.
Bimbing aku selalu untuk bisa menjadi pendamping hidupmu, dunia dan akhirat, aamiiiin