Rabu, 02 April 2014

AKU INGIN MENGENALMU LEBIH DEKAT LAGI

Oleh: Meili Damiati



Kututup pintu kamar dengan pelan. Tampak jagoan-jagoan cilikku sudah dua jam yang lalu terlelap. Segera lampu kumatikan.
Sambil meluruskan punggung di samping suami, aku usap lembut keningnya. "Yah, sudah ngantuk ya?" tanyaku pelan.
"Iya, Mi..." terdengar sahutannya setengah sadar.

"Yah... Umi boleh minta waktu setengah jam ga? Atau paling lama sejam deh ya..." rajukku.

"Buat apa siiih?" Suamiku masih belum membuka matanya. Aku tau, dia benar-benar mengantuk. Tapi kupikir kalo tidak malam ini, pasti aku harus menunggu satu minggu lagi. Besok pagi kan suamiku harus kembali bekerja ke kota Padang dan baru pulang lagi di akhir pekan.

"Yah..." aku berusaha membangunkannya dengan mempermainkan daun telinga dan mencium pipinya.

"Umi... besok kan Ayah mau puasa. Harus bangun pagi-pagi sekali. Mending kita tidur yuuk." Suamiku berusaha beralasan dengan nada suara yang semakin berat karena kantuknya yang teramat sangat.

"Duh Ayah, Umi cuma minta waktu sebentar saja kok."
 
"Besok pagi ya..."

"Besok pagi pasti kita ga ada waktu Yah. Kan memang sebaiknya waktu bercerita suami istri itu malam sebelum tidur, Yah." Ucapku meyakinkan.

"Gini lho Yah... Umi mau Ayah bercerita sedikit tentang pertama Ayah mengenal Umi. Umi sudah menulis kisah hidup keluarga kita. Tapi itu kan dari sudut pandang Umi. Jadi malam ini, Umi ingin mendengar cerita dari sudut pandang Ayah. Kapan Ayah mulai menaruh hati pada Umi? Bagaimana dulu cara Ayah meyakinkan Mami untuk bisa memberi izin Ayah menikah sementara kakak tertua belum menikah? Coba Ayah ceritakan ya... Umi ingin tau langsung dari Ayah."

Meskipun awalnya terlihat malas untuk mengorbankan jam tidurnya, akhirnya rasa kantuk suami hilang bersama penggalan kisah yang berhasil ia ungkapkan. Ku simak baik-baik kisah bersejarah itu.
Suamiku dulu adalah salah satu ustadz di Pondok Pesantren tempatku menimba ilmu.

Karena ilmunya dalam pengobatan herbal mencukupi, maka kedekatan kami terbangun ketika aku dulu sering sakit-sakitan. Mau tidak mau interaksi berjalan, pastinya tetap dalam koridor yang aman. Sama seperti yang kurasakan, waktu itu belum ada rasa spesial yang tumbuh di antara kami. Hanya sebatas ustadz muda dan santriwati

Hanya satu tahun kebersamaan kami di Pesantren. Karena ustadz muda ini harus melanjutkan kuliahnya di sebuah Universitas Islam Swasta di Yogyakarta sementara aku lulus di sebuah Perguruan Tinggi Negri di kota Bandung. Komunikasi diantara kami masih terjaga karena ia selalu menanyakan tentang kesehatanku. Sebagai wanita, wajar saja jika waktu itu aku merasakan punya tempat spesial di hatinya. Oh ternyata tidak baginya, perhatiannya itu karena memang sifatnya yang natural. Sudah begitu dengan siapa saja.

"Ooh gitu. Berarti selama ini memang Umi yang kegeeran ya karena perhatian yang pernah Ayah berikan?" selidikku.

Suamiku tersenyum. "Kan Ayah sudah bilang, dulu pas kuliah, Umi bilang mau lanjut S2. Sementara Ayah sangat ingin menjaga diri dengan menikah."

Aku dulu memang sempat menjalani ta'arruf dengan seorang aktivis dikampus Tapi karena ketidaksamaan visi misi, akhirnya ta'arruf berakhir.
Begitu juga dengan suamiku,
"Kebetulan dia dulu sekeretaris Ayah di organisasi. Kami merasa cocok. Dan Ayah pun sudah menghadap orangtuanya..."

"trus...trus...." cecarkan ingin tau.

"Ya, begitulah... karena dia orang Jawa dan Ayah Minang, banyak pertimbangan dari orang tuanya untuk meng iyakan. Lalu, datanglah surat dari Umi menanyakan. Ayah pun kaget. Padahal dulu Ayah menutup kemungkinan itu karena keinginan kuat Umi untuk bisa melanjutkan S2 dulu baru menikah, rasanya sia-sia jika Ayah berharap."

Aku terkekeh mengingat kembali keberanianku waktu itu.
Pikiranku mulai tertuju pada ustadz muda ini ketika Papa menanyakannya padaku. Ntahlah, sepertinya Papa sangat menyukai kepribadiannya. Karena memang menurutku dia orang yang baik, akupun mulai menanyakan langsung, apakah perhatiannya padaku selama ini adalah bentuk niatnya untuk menjadikanku belahan jiwa atau tidak? Jawaban pasti akan membuat langkahku kedepan menjadi tidak ragu. Alhamdulillah gayungpun bersambut.

Mengulangi sejarah perjalanan cinta sepasang suami istri adalah moment terindah yang sayang untuk dilewatkan. Seperti malam ini. Hanya butuh satu jam paling lama untuk memupuk subur kembali benih-benih cinta yang telah tumbuh di antara kami. Kini usia pernikahan kami baru akan memasuki tahun kesepuluh. Malam ini adalah malam bersejarah dalam proses saling mengenal antara aku dan suami.

"Kalau Umi ga berani menanyakan langsung, mungkin kita ga disini sekarang ya Ayah? ledekku.

"Ha..ha... itulah keajaiban jodoh, Umi. Kita harus yakin itu, perjalanan yang kita hadapi hanyalah proses menuju takdir itu."

"Iya, Ayah... tapi yang penting sekarang Ayah mencintai Umi kan?" Aku tau, ini pertanyaan gombal memang. Tapi naluri wanitaku sangat ingin mendengar jawabannya langsung dari mulut suamiku.

"Iya dong sayang... Umi bisa nilai sendiri dari apa yang telah Ayah lakukan untuk Umi dan anak-anak, kan..."

Aku mengangguk. Mengingat betapa tulusnya suami menyayangiku. Dengan kehadirannya yang hanya di akhir pekan, aku selalu merasakan tugas-tugasku menjadi ringan dengan kehadirannya. Selama keberadaanya di rumah, suamikulah yang selalu belanja kebutuhan dapur di pasar, menyuapi anak-anak makan, mengajak kami wisata alam, bahkan selalu menemaniku untuk memasak di dapur. Bagiku dan suami, dapur adalah salah-satu tempat bagi kami untuk menunjukkan kasih sayang.

"Terimakasih Ayah..." Kupeluk dirinya dengan segenap jiwa. Aku bahagia Allah telah menganugerahiku suami yang penyayang.

Aku tersenyum puas. Malam ini sangat berarti bagiku. Karena kubisa tau isi hati suamiku langsung dari cerita yang ia kisahkan,

"Semoga proses mengenal kita selalu berjalan setiap saat ya Ayah..."
Suamiku mengangguk. Sebuah kecupan hangatpun mendarat di keningku.
------------
Bkt, 250314

Jumat, 28 Maret 2014

STEP MEMULAI BISNIS ONLINE

Oleh: Meili Damiati

1. Tentukan dulu bisnis online bagaimana yang ingin anda jalani. Apakah anda langsung sebagai penjual atau hanya pemasar? Jika anda penjualnya langsung, siapkan produk-produk yang akan anda jual. 

Sebaiknya pilih produk yang jika anda sendiri di posisi pembeli, anda juga menyukai produk tersebut.

2. Sebagai pemilik barang, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah foto produk tersebut dengan mengusahakan hasil gambar yang sesuai dengan aslinya. Upload barang-barang tersebut di jejaring sosial (bagi saya, FB lebih menjanjikan). Tulis keterangan lengkap tentang produk dibawah foto beserta harganya. Jangan lupa tulis contact person agar konsumen mudah menghubungi anda.


3. Jika anda hanya sebagai pemasar (dropshipper), Jalin kerjasama yang baik dengan suplier yang telah anda pilih. Anda tetap bertanggung jawab kepada konsumen hingga barang samapai ke mereka, meskipun pengiriman barang, langsung suplier anda yang melakukan ke alamat konsumen.


4. Rajin-rajinlah promosi produk dengan membagikan foto-foto produk anda di facebook atau sejenisnya. Atau anda bisa mentag teman-teman yang anda yakin mereka tidak terganggu dengan aktifitas taging tersebut. Atau jika ternyata ada yang merasa terganggu, jangan sungkan meminta maaf dan segera meremove nama mereka dari foto anda.


5.Untuk memudahkan transaksi (cek / transfer uang), aktifkan internet banking anda. Jadi tidak perlu repot ke atm untuk memastikan transaksi keuangan.


6. Jaga kepercayaan dan bertanggungj jawablah jika ternyata anda mengalami resiko. Misal: barang rusak ketika nyampe di knsumen. Penjual yang baik akan berbaik hati untuk menggantinya.

Jika ada yang kurang, boleh ditanyakan

-----------
Bkt, 270314

BEKERJA DARI RUMAH

Oleh: Meili Damiati


"Umi, kok ga buka kedainya?" ujar salah satu tetangga via whatsapp.

"Lagi ada kerjaan di rumah jadi malas buka, hi..hi... Lagian isi kedai hanya buat pajangan doang. Jual beli via inetrnet wae, bu.."

"Enak juga usaha semau gue"

Saya hanya tersenyum sambil mikir, untung saya ga jadi karyawan kantoran. Bisa-bisa di PHK kalo kerja cuma ngikutin mood doang. Ini aja kedai samping rumah ga dibuka-buka karena asyik dengan aktifitas menulis sambil jual online.

Biarin ahh, paling kalo buka juga, yang beli cuma anak-anak. Stock makanan anak-anak di kedai emang sudah saya minimalisir, hanya untuk persediaan bocah-bocah saya sendiri, biar mereka ga jajan sembarangan tapi tetap aja, sekali waktu ada yang manggil, "Nte... beli teh gelas dooong..."
Jadilah tuh rolling door buka tutup, buka tutup.
Tapi ga masalah apa kata orang, yang penting jual beli online sangat nyaman digeluti oleh Ibu Rumah Tangga seperti saya. Dan saya sungguh menikmati itu.

Dulu komputer saya tempatkan di kedai. Jadi sambil jagain, aktifitas online tetap bisa dijalankan tapi ya ampuuuuuun..... rumah jadi ga terkontrol. Akhirnya kedai yang ga terlalu produktif saya jadikan hanya untuk pajangan produk yang sesekali dibuka. Komputer pun berpindah ke dalam kamar. Jadi sambil melaksanakan pekerjaan rumah, aktifitas online tetap bisa berjalan. asyik kaaan?

Oh ya, bisnis online ini sudah dari awal 2010 saya geluti. Yang penting amanah dan selalu jaga kepercayaan konsumen dan layani mereka dengan cepat dan ramah. Modal itu dulu, rasanya sudah cukup. Ga terlalu butuh modal karena kerjasama dengan suplier dengan modal komunikasi efektif bisa melancarkan usaha ini. Kalau mau penjualan pas-pasan yaa promosilah seadanya via jejaring sosial atau apapunlah itu. Kalau ingin penjualan melesat, maka kita juga harus rajin promosi. Tapi kalau dianggurin terus, yaa tinggal menunggu rezeki turun dari langit aja deh.

Yang minat untuk memulai bisnis online tanya-tanya saya boleeeh...

--------------
Bkt,270314

SEBUAH IMPIAN

Oleh: Meili Damiati

Kau terpekur, kawan. Memikirkan cita-citamu yang terasa masih jauh untuk kau gapai. "Mengapa pikiran ini terasa buntu?" lirihmu. Sesekali kau tatap layar kaca, membaca kembali karya-karya yang berhamburan silih berganti. "Sungguh indah kata-kata itu. Rangkaian yang benar-benar manis."

Matamu tak henti menatap layar. Kadang kau tersenyum, kadang kau terlihat sedih, kadang kau pun dibuat terpingkal.
Tapi, mengapa setelah itu kau bangkit, berjalan ke arah jendela dan terlihat begitu murung?
"Wajarkah aku bercita-cita menjadi Penulis?" ucapmu sambil melayangkan pandanganmu pada mentari.
Perlahan kau menitikkan air mata dan terisak, "Aku tak pantas jadi Penulis! Bahkan tak lebih dari 3 buku yang berhasil kubaca hingga akhir."

"Cita-citaku?? Apakah hanya khayalan semata?"
Kau mainkan jemarimu pada kaca jendela yang telah banyak dihinggapi debu, mengukir kata-kata yang entah apa. Tiba-tiba,
"Tidak!!" pekikmu. Bahkan cicak yang melihatmu pun ikut terpelanting, terkejut dengan teriakan hebatmu. "Aku tak boleh menyerah! Cita-cita ini harus menjadi nyata! Kuharus memburu karya-karya bagus untuk mengisi ruang kosong imajinasiku.
Aku harus bisa!!!!"

---------------
Bkt, 260314

TUAN PENGUSIK MALAM

Oleh: Meili Damiati





Teruntuk Tuan pengusik malamku.
Tahukah kau, ingin kuganti malam dengan terang siang?
Tidak, tidak, jangan dulu tersenyum puas. Aku tak ingin membawamu menikmati hangat matahari pagi. Sesungguhnya aku hanya tak ingin malam-malamku penuh dengan kau.
Cukup sudah, Tuan. Belaian malam membuatku hanyut bersamamu. Aku tak berdaya menahan gejolak yang kau bawa dalam mimpi.
Jangan sentuh tanganku, apalagi berani membisikkan sesuatu di telingaku. Jangan! Kau nyaris membuatku rebah dengan segala khayal pikir tentangmu.

Ah, Bagaimana bisa aku setolol itu. Membiarkanmu menodai kesucian hatiku.
Pergilah kau, Tuan bersama desir angin yang membawa kabut pekat menjauh dari langit hatiku. Aku tak ingin lagi ada kau menemani malamku.

Oh Tuhan, enyahkanlah ia dari fikiranku!!!
Sungguh kutak rela, kenikmatan impian semu ini merenggut kebahagiaan bersama suami dan anak-anakku

Buaian mimpi ini menyadarkanku untuk selalu memperkuat cintaku pada-Nya.
Semoga ikatan suci yang telah kuikrar tak mampu digoyahkan oleh apapun juga. 

Termasuk bayangmu..

_________
Bkt, 250314

Senin, 24 Maret 2014

KAKAK SELALU SALAH?

EDISI PARENTING

Oleh : Meili Damiati

Ketika sedang asyik beraktifitas di dapur, saya mendegar jeritan si dua tahun yang sanggup membuat kening saya berkerut. Spontan saja dari jauh saya berteriak,
"Aliiiii.....jangan bikin nangis adik dooong..."

Ali yang sudah berumur 6 tahun pun lantang menjawab.
"Ga diapa-apain kok Umiii... Zahra aja yang nangis sendiri."

Hufft, dengan tampang kesal, saya beranjak dari dapur sambil ngomel, Duh, Abang... kok ga bisa main sama adik sih?!
Di sudut kamar terliihat Ali sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya. Sementara Zahra tampak sedang merapikan kerudung mungilnya di depan kaca sambil menggerutu.
"Zahra kenapa?" Saya pun bertanya.
"Mbut jaja mpak ni Mi... ga ica macuk.i..ih.." Jawab Zahra kesal.

Oh ternyata si kecil sedang mencoba merapikan kerudungnya dibagian wajah. Tapi karena poninya nongol terus dan tidak berhasil ia masukan dengan tangannya, jadilah dia marah besar, ha..ha...

Saya hanya bisa tersenyum getir mengingat spontanitas tadi yang telah langsung menyalahkan Ali sebagai abangnya. Saya sungguh merasa bersalah sudah mematikan sel-sel anak dengan selalu menyalahkannya tanpa mengecek dulu kebenaran yang ada.

Hingga masa-masa kecil saya pun jadi teringat kembali, saat orangtua memarahi saya karena tangisan adik. Betapa kesalnya saya waktu itu. Karena apa-apa yang membuat adik menangis, pastilah saya yang disalahkan. Hmmm... ternyata enak sekali ya jadi anak bungsu? pikir saya waktu itu agak sedikit sinis.
Suatu hari, disaat Ali beramain dengan Zahra dan merajuk karena mainannya diambil adik, spontan Kakekpun menasehatinya,
"Ali!!! kalau mainan kamu diambil adik, ya biasa. Dia kan adik Ali. Kalau Ali yang merebut mainan adik, itu baru ga boleh!"

Saya hanya bisa menghela nafas untuk menghindari adu argumen dengan ortu. Lagi-lagi saya membatin, 'benar-benar ga adil nih. Enak banget ya yang jadi anak bungsu karena dibela terus.'

Kasus lain,
Suatu hari, di rumah saya kedatangan saudara kampung yang mengadukan tentang tetangganya,
"Si Mina benar-benar ga punya hati. Sudah tau adiknya mau melahirkan, eeh dia malah pergi ke luar kota. Kan kasian adiknya ga ada yang mendampingi. Apalagi Ibunya kan sudah meninggal."

Mendengar keluhan ini, lagi-lagi saya bersimpati kepada orang yang bergelar kakak. Bagi saya ya wajar saja si kakak itu pergi ke luar kota. Pasti ada kepentingannya. Apalagi adiknya itu sudah mau melahirkan anak yang keempat. Dan sudah menjadi tanggung jawab suami, pastinya. Lalu, kenapa lagi harus dengan kakak?!

Dari kasus-kasus ini saya berfikir, sebenarnya sejauh apa sih peran seorang kakak? apakah seorang kakak hanya punya kewajiban tanpa perlu diberikan haknya?
Jika antara kakak dan adik ada sebuah masalah, apakah sebagai orang tua, kita sudah adil menjadi seorang hakim? Karena salah dan benar bukan dinilai dari faktor mana yang besar, mana yang kecil tapi siapa yang benar, siapa yang salah? Jika ternyata si bungsu yang salah, apa tidak sebaiknya mengajarkan dia sedini mungkin untuk meminta maaf atas kesalahan tersebut kepada kakaknya?
Selain itu, jika sebagai orang tua, kita menuntut si kakak untuk sayang kepada adiknya. Apakah kita juga sudah mengajarkan si adik untuk dapat menghormati kakaknya?

Tulisan ini mengajak kita sebagai orang tua untuk melihat kembali semua kebijakan yang telah kita terapkan di rumah. Apakah antara si kakak dan si adik sudah memiliki hak dan kewajiban yang seimbang? Jangan sampai niat kita untuk mendidik kakak agar menyayangi adiknya malah jadi bumerang yang akhirnya menimbulkan dendam tersendiri dalam diri si kakak, gara-gara ia selalu disalahkan dan adiknya selalu dibela.

Ternyata dari rumah, orang tua harus belajar menjadi hakim yang bijak. Tentu saja jika ini sudah dapat kita terapkan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang selalu membela kebenaran. Insya Allah.
------------------
Bkt, 240314

Minggu, 23 Maret 2014

AKU BUKAN LAGI AKU

==Aku Bukan Lagi Aku==

 
Oleh: Meili Damiati


"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu ditendang, sekarang ku disayang. Dulu-dulu ku menderita, sekarang aku bahagia."


Kutipan lirik lagu penyanyi cilik 'Tegar' ini hanya untuk gambaran dari salah satu fakta bahwa kehidupan itu tidaklah selalu datar. Ibarat roda, kadang diatas dan kadang dibawah. Ibarat bintang, bulan dan matahari yang tak selamanya bersinar. Ada saatnya terang dan meredup, terbit dan tenggelam.


Begitu juga dengan pernikahan yang merupakan pintu masuk sebuah 'dunia' baru.
Pernikahan adalah proses penyatuan dua jiwa dalam sebuah ikatan suci. Alquran menyebutnya "Mitsaaqan Ghaliizha" yaitu sebuah perjanjian yang amat berat. Mengapa berat? Karena dengan pernikahan akan timbul hak dan kewajiban baru masing-masing individu. Ada hak-hak yang perlu dijaga dan kewajiban yang harus ditunaikan.


Dalam sebuah ikatan pernikahan, aku akan tergeser oleh kita. Kebutuhanku harus dikesampingkan untuk kebutuhan kita.

Aku yang dulu perfect harus lebih bisa menerima hal-hal yang dulu dirasa tidak wajar.
Aku yang dulu ingin sempurna harus bisa membuka mata bahwa kesempurnaanku dulu hanyalah karena keterbatasanku dalam mengenal diri lain di luar aku.

Dengan pernikahan, hati dan pikiranku pelan-pelan terbuka lebar oleh sebuah warna baru yang dimiliki pasangan bahkan keluarga besarnya.


Pernikahan lambat-laun memberikan pemahaman bahwa hidup bukan hanya teori ideal tapi realita yang hanya butuh keseimbangan di sana-sini. Keseimbangan dari setiap sisi kehidupannya.


Apalagi jika posisi istri/suami sudah bertambah juga oleh posisi Ayah dan Ibu, tentulah sebuah ketulusan dan keikhlasan untuk dapat melepas sebuah egositas sangat dibutuhkan.

Sebelum menikah, aku berhak melakukan apapun untuk kepentinganku. Waktu untuk aktualisasi berbagai kemampuan diri, kapanpun bisa aku lakukan. Tapi setelah menikah dan punya anak, aku harus rela mengikhlaskan sebagian keinginanku untuk membahagikan anak dan pasangan. Tentu saja, karena aku sudah memegang perjanjian berat itu.


Pernikahan itu indah karena dihiasi warna yang beragam.


Keindahan dalam kehidupan bukan hanya karena kesenangan semata. Episode kesedihan pun akan menjadi indah jika yakin bahwa skenario Allah hanya untuk menempa mental hamba-Nya. Hidup bagai pelangi yang diwarnai oleh lika-liku pengembaraan. Jika aku tetap menjadi aku, niscaya pengembaraan itu akan menemukan jalan buntu. Tapi jika aku menjadi kita, pengembaraan akan menemui tujuannya yaitu sebuah Keluarga SAMARA (Sakinah, Mawaddah wa Rahmah)

---------
Bkt, 200314